Kejadian ini seharusnya membuat kita semua menjadi sadar diri dan intropeksi. Peristiwa ini pun juga menjadikan kita mawas diri untuk selalu ingat pada Allah SWT dan ringan berbuat baik pada orang lain. Namun secara umum justeru kebalikannya yang terjadi saat ini di lingkungan kita. Sikap ego yang menjadikan buta hati dan tuli yang mampu bersikap peduli pada orang lain. Entah apa yang terjadi dengan masyarakat seperti saat ini. Penempatan sikap egonya terlalu tinggi, hingga tak mampu utnk menjadikan ikhtibar sebuah kematian. Bahasanya dari mana kita, berada dimana kita dan akan kemana kita nantinya. Sebuah pertanyaan yang harusnya menjadi renungan bersama. Jika ajal berkehendak, maka semuanya akan terjadi dan mereka menyesal dikemudian hari akan segala perbuatan dimasa lalu.
NU selalu menyarankan ke warganya agar selalu berziarah kubur atau ikut takziah ke tetangga yang terkena musibah kematian. Tujuannya agar menjadi sadar jika hidup ini hanyalah sementara. Pembelajaran ke ASWAJAAN merupakan bagian penting sebagai pedoman hidup sebagai seorang muslim dalam mencapai ridlo sang Illahi Robbi. Sikap cuek yang tak mau bertegur sapa dengan yang lainnya, telah menciptakan gubangan yang dalam hitam dan pekat. Gubangan ini akan selalu dan terus menjadikan setiap pribadi hidup secara individualisme. Penyesalan akan diterimanya jika kita baru menyadari jika ajal itu tiba. Keinginan untuk berbuat baik sudah tidak ada lagi dan terputus hubungan secara duniawi. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran yang berharga bagi kita semua. Tean MINUM

Tidak ada komentar:
Posting Komentar